Keluarga Juliman Panggabean

Kematian Tahanan Polsek Helvetia Mencurigakan

>> kurniawan, medan
           Kematian Juliman Panggabean (39), tahanan Mapolsek Helvetia Medan, dinilai pihak keluarganya sangat mencurigakan. Pria yang ditahan akibat kasus perkelahian ini menghembuskan nafas terakhirnya di RS Brimob Jalan Wahid Hasyim, Medan setelah sebelumnya dilaporkan kritis.
"Kematian almarhum sangat mencurigakan bagi keluarga kami. Ajal memang di tangan Tuhan dan siapa pun tidak dapat menolaknya. Namun ada sesuatu yang tidak beres atas kematian almarhum," kata HSD Panggabean, keluarga almarhum, sesaat setelah prosesi pemakaman di pekuburan umum Jalan Marelan, Medan, Sabtu (30/5).
Mantan anggota DPRD Sumut ini mengatakan pihak keluarga tidak rela ada sesuatu yang disembunyikan yang mungkin menjadi penyebab meninggalnya almarhum. Kecirigaan terjadi karena Juliman Panggabean yang sudah 8 hari ditahan di Mapolsek Helvetia atas kasus perkelahian, tiba- tiba dilaporkan kritis dan sudah menjadi mayat di rumah sakit.
Juliman ditahan sejak Kamis 21 Mei 2009, atas pengaduan seseorang ke Polsek Helvetia yang sehari sebelumnya antara ia dan orang itu terlibat perkelahian.
Perkelahian itu terjadi sekitar pukul 8.30 WIB setelah Juliman menegur seseorang yang tengah berpacaran di teras rumahnya. Ia juga menasehati agar orang itu tidak berpacaran di teras rumahnya karena selain tidak sopan juga hari sudah terang dan banyak orang lewat.
Namun orang tersebut malah marah dan melontarkan makian sehingga keduanya terlibat perkelahian yang dimenangkan Juliman dan berhasil memegang leher orang tersebut.
Lantaran diduga tidak senang, orang tersebut yang juga diketahui adalah warga setempat melapor ke polisi. Keesokan harinya Juliman Panggabean ditahan tanpa ada surat perintah penangkapan. Namun pihak keluarga menerima surat perintah penangkapan setelah Juliman dijebloskan ke ruang tahanan.
Seminggu Juliman ditahan, pada hari Kamis tanggal 28 Mei 2009 salah seorang keluarga menjenguk. Saat itu korban masih nampak sehat walau mengaku tertekan karena penahanannya terkesan direkayasa.
Keesokan harinya, tepatnya Jumat (29/5) sekitar pukul 14.00 WIB, pihak keluarga mendapat telepon yang menyebutkan Juliman Panggabean saat itu dilarikan ke RS Brimob Jalan Wahid Hasyim karena kondisinya kritis.
Saat pihak keluarga tiba di rumah sakit sekitar pukul 15.30 WIB, ternyata Julian Panggabean dinyatakan sudah meninggal dunia.
Pihak keluarga yang mengaku curiga atas kematian Juliman meminta agar otopsi terhadap jenazah dilakukan di RSU Pirngadi Medan yang akan dilaksanakan Sabtu 30 Mei 2009. Namun pihak RS Brimob malah melakukan otopsi sendiri pada Jumat malam 29 Mei 2009 dari pukul 21.00-23.00 WIB. Namun hasil otopsi itu tidak dapat diperoleh pihak keluarga saat mereka memintanya. Jenazah korban akhirnya dibawa keluarga dan dikebumikan di pekuburan umum.
Di tengah duka dan kecurigaan menyelimuti keluarga, di sejumlah koran pihak medis di RS Brimob menyebutkan penyebab kematian Juliman karena menderita sesak napas. "Hasil otopsi belum diketahui, tapi pihak RS Brimob sudah buru-buru menyebut penyebab kematian Juliman karena sesak napas. Kami makin curiga ada yang tidak beres dan ini akan kami usut tuntas," tegas HSD Panggabean yang juga Ketua DPP Persatuan Batak Islam. ***