Ketika Remaja Mogok Sekolah

imbc/pc
    Kejenuhan juga dapat disebabkan kecilnya tantangan yang anak dapatkan. Seorang anak yang sudah menguasai keterampilan membaca akan jenuh ketika harus terus-terusaan diikutkan bersama teman-temannya yang lain yang belum bisa membaca. Akhirnya anak-anak ini akan sulit berkonstrasi, tidak mau diam. Sebagian dilampiaskan dengan mengganggu teman-temannya yang lain.

   Sebab kedua adalah yang disebabkan tekanan 'content' sekolah yakni kurikulum yang tidak sesuai (terlalu berat) dengan perkembangan anak. Jika Anda membandingkan kurikulum-kurikulum sekolah di Asia dengan sekolah-sekolah di Eropa, maka Anda akan mendapati bahwa sebagian besar kurikulum sekolah di Asia berpotensi membuat anak 'stress' belajar. Anak-anak di Finlandia diajarkan membaca baru sejak mereka memasuki usia SD sementara anak-anak di Indonesia jika orangtua tak mendapati anaknya tak bisa membaca di sekolah TK, sekolah TK ini
akan dianggap gagal oleh orangtua!

   Setelah sekolah SD, anak-anak ini pun dari kelas 1 sudah dijejali dengan berbagai macam pelajaran yang membuat kening mereka berkerut. Anda bayangkan anak kelas 1 atau kelas 2 sudah diajarkan bagaimana membuat KTP! Silahkan main dan cek ke sekolah-sekolah Singapura, anak-anak di Singapura sampai kelas 2 SD hanya mendapatkan 3 mata pelajaran: matematika, bahasa inggris dan bahasa ibu (jika berasal dari etnis melayu maka bahasa yang diajarkan bahasa ibu, jika berasal dari india maka yang diajarkan bahasa india, jika etnisnya tionghoa maka yang diajarkan adalah bahasa mandarin).

   Di Indonesia anak-anak kita mendapatkan sedikitnya 7 mata pelajaran pada tingkat kelas yang sama. Ini baru di sekolah umum, bayangkan jika anak Anda masuk sekolah berbasis agama. Karena itu tak heran prestasi hidup anak yang sekolah dengan basis agama belum tentu lebih baik dari segi moral sekalipun dibandingkan mereka yang sekolah di sekolah umum.

   Seorang dosen pernah berkata inilah mungkin barangkali banyak ia melihat mahasiswanya 'burn out' ketika kuliah. Kuliah hanya berdasarkan SKS, belajar saat mendekati UTS atau UAS. Mereka memenuhi perpustakaan penuh ketika skripsi dilakukan dan ketika lulus kuliah maka kalimat yang diteriakkan 'horeeee bebas dari buku'. Karena sebab ini, banyak anak yang merasa tak nyaman berlama-lama di sekolah untuk belajar.

Banyak dari kita saat sekolah dulu berlama-lama di sekolah karena nyaman justru karena kegiatan ngobrol dan nongkrong di sekolah, kegiatan ekskul dan lain-lain yang di luar jam belajarnya itu sendiri. Akan tambah kuat jika anak-anak remaja ini tidak mendapatkan kenyamanan ketika mereka berada di rumah. Dijamin, mereka akan betah berlama-lama di luar rumah.