Akibat Konversi, Minah “Menghilang” di Langkat

Warga Alur Gading Mengadu ke FPAN DPRDSU

>>nida, medan
    Meski bertujuan untuk menghemat anggaran negara, namun kebijakan konversi minyak tanah ke gas elpiji tak sepenuhnya direspon positif masyarakat. Di Langkat, sekitar 200-an warga Alur Gading terancam gelap akibat minyak tanah menghilang selama beberapa waktu terakhir.
    Pasalnya, ratusan warga Alur Gading ini belum menikmati fasilitas listrik dan masih tergantung pada minyak tanah untuk bahan bakar penerangan mereka. "Warga Alur Gading yang jumlahnya mencapai 200-an kepala keluarga ini terancam gelap akibat minyak tanah menghilang," tutur Sekretaris Fraksi PAN DPRD Sumut, Ir Syahrian Harahap, Rabu (11/11), usai menerima pengaduan masyarakat Alur Gading.
Dikatakan Syahrial juga Anggota Komisi B DPRD Sumut, akibat menghilangnya minyak tanah, warga terancam gelap. Jika dibiarkan berlanjut, hal ini dikhawatirkan akan bertentangan dengan visi dan misi Gubsu Syamsul Arifin agar rakyat tidak bodoh.
Syahrial meminta agar pemerintah memikirkan solusi suatu masalah sebelum timbul masalah lainnya. "Kalaupun minyak tanah dikonversi, maka fasilitas pendukung seperti listrik harus diantisipasi. Sehingga visi misi Gubsu agar rakyat tidak bodoh dapat tercapai," kata Syahrial.
Menurut informasi yang diperoleh dari masyarakat Alur Gading, kata Syahrial, di daerah mereka sebenarnya sudah ada arus listrik dari PLN, tinggal lagi bagaimana memasang tiangnya.
Syahrial yang berasal dari Daerah Pemilihan Binjai-Langkat lebih lanjut menyatakan bahwa konversi minyak tanah ke gas dikhawatirkan kedepan akan mematikan pangkalan minyak tanah. Karena saat ini bermunculan pangkalan-pangkalan elpiji baru, yang izinnya belum diketahui secara pasti.
"Kita mintakan instansi terkait agar menertibkan pangkalan-pangkalan elpiji yang bermunculan bak jamur di musim hujan, apakah memang ada izinnya atau tidak," kata Syahrial.
Dia juga mendesak agar pemerintah melakukan sosialisasi secara luas mengenai penggunaan gas elpiji, mengingat kondisi tabung gas elpiji yang terjemur sejak beberapa tahun terakhir tidak maksimal lagi, karena berjemur di tengah panas.
"Masyarakat belum sepenuhnya paham benar cara menggunakan gas elpiji. Perlu dilakukan sosialisasi secara benar, sehingga masyarakat terhindar dari bahanya," kata Syahrial. ***