Langkah berikutnya adalah berdamai dengan perasaan yang mereka utarakan. Daripada menangkis dan mengabaikan perasaan mereka, lebih baik identifikasi/ coba mengerti apa yang sesungguhnya mereka rasakan. Jangan justru memperlebar jurang bicara dengan berkomentar panjang lebar, cukup dengan ungkapan kecil namun bijak "ooh, mmm.. begitu ya.
Misalkan anak Anda mengalami patah hati pertama kali karena ‘pacar'nya ternyata ‘playboy.' Di saat ia bercerita, jangan mengomentarinya dengan "tuh kan, emang dia brengsek, dari gayanya aja Mama udah tau kalau dia nakal, dia emang ga pantes buat kamu." Sebaiknya, identifikasi perasaan mereka dengan berkata "Oh itu yang buat kamu kelihatan sedih akhir-akhir ini, pasti kamu kecewa ya...hmm, seandainya aja Ronny anak baik ya, Mama bersyukur sekali kalau kamu punya teman seperti dia."
Dengan memahami perasaan mereka dan memberikan khayalan yang berbeda dari kenyataan, ternyata membuat remaja lebih nyaman menerima keadaan sesungguhnya dan membuat mereka merasa berhak didengar.
Setelah mampu memahami perasaan mereka, hindari melakukan perintah atau bersikap menyalahkan. Misalnya "Jangan makan pizza itu banyak-banyak" atau "Pulang sekolah taro baju yang bener di ember belakang" atau "Ini baju rusak gara-gara kamu yang cuci." Sebaiknya berikan penjelasan atau informasi dengan cara yang baik seperti "Pizza ini cuma sedikit, karena kita sekeluarga ber-5, jadi masing-masing hanya kebagian satu dulu ya" atau "Baju ini sayang sekali selesai pakai langsung di buang ke lantai, karena kalau noda-noda minyak dan debu yang ada di lantai nempel, nanti susah hilangnya. Memang mau pakai baju yang ada corak coklatnya...?" atau "Lena sayang, lain kali sebelum cuci baju lihat dulu ya petunjuknya, biasanya ada di bagian dalam baju. Nah lihat kan, baju ini hanya boleh dicuci pakai tangan, kalau pakai mesin cuci jadi mengkerut."
Ungkapkan juga harapan Anda seperti "Mama makasih banget kamu mau bantu, mudah-mudahan kamu semakin menjadi anak yang bertanggung jawab, siapa tahu nanti kuliah jadi anak kos, yang segalanya harus mandiri." Dengan begitu, remaja merasa bahwa dirinya mampu ‘berbuat sesuatu,' bukan hanya ‘makhluk' yang diperintah.
Memahami perasaan sudah, menghindari kata perintah ataupun menyalahkan sudah. Apalagi? Selanjutnya, Anda harus menentukan sikap apakah mereka harus dihukum atau tidak atas ‘kenakalannya.' Kenapa? Karena ada sebagian anak yang merasa bahwa hukuman memang menolong mereka untuk kembali ke ‘jalan yang benar,' namun sebagian lagi justru berpendapat itu akan membuat mereka merasa lemah, terpuruk dalam rasa bersalah yang berkepanjangan sehingga tidak lagi percaya terhadap dirinya sendiri.
Celakanya, sebagian lagi justru mencari celah agar tidak lagi ‘ketahuan,' mereka menjadi pembohong unggul! Hmm, ternyata ada alternatif hukuman lho. Caranya, begitu Anda tahu ada perbuatan mereka yang mengecewakan Anda, beritahu mereka, ungkapkan perasaan Anda, harapan Anda, beritahu mereka cara memperbaiki kesalahan, berikan tawaran atau pilihan dan lakukan aksi untuk mencegah terulangnya ‘kejadian.' Misalnya "Papa kecewa sekali, karena tadi tanpa sengaja menemukan surat peringatan dari guru kamu di sekolah. Jadi, kamu sudah 3 hari ini bolos. Sebenarnya, Papa sangat berharap kamu senang belajar di sekolah, Papa dan Mama sedih karena tidak mudah rasanya mengumpulkan uang untuk sekolahmu nak."
Setelah Anda tahu alasan mereka, (ingat jangan mendesak alasannya) perlahan berikan mereka pandangan bagaimana memperbaiki kesalahannya, kemudian tawarkan pilihan seperti, "Besok, Papa temani ya, kita minta maaf sama-sama ke wali kelasmu. Kalau kamu bosan karena Pak gurunya ga jelas ngajarnya, kita bisa pilih tempat les yang kamu suka, yang bisa buat kamu semangat, atau mau bikin kelompok belajar?"
Di hari lain, jika mereka terlihat tetap jenuh dengan pelajaran tersebut meskipun sudah memilih caranya sendiri untuk membuat kelompok belajar, lakukan aksi dengan perjanjian bahwa mereka harus tetap bertahan sampai menemukan cara yang mereka anggap paling nyaman dalam mempelajari mata ajar tersebut. Ketegasan dalam fase ini mutlak diperlukan, tidak ada salahnya menambahkan ‘ancang-ancang hukuman,' seperti "Atau kamu mau untuk tidak main dulu sementara sebelum kamu ngerti pelajaran itu?" Jelas sekali perbedaannya, bahwa dengan hukuman kita sudah menutup rapat-rapat segala kemungkinan, namun dengan menawarkan solusi/ perjanjian kita tetap membuka peluang bagi mereka untuk memperbaiki kesalahannya.
Step selanjutnya yakni dengan bekerja bersama-sama dalam menyelesaikan suatu masalah. Biarkan mereka memberikan pandangannya, begitu juga dengan Anda. Lakukan ‘brainstorming' berdua, tulis dalam sebuah kertas. Jangan pernah mentertawakan apa yang menurut Anda ‘ide bodoh.' Setelah itu, bersama-sama cari titik temu, mana yang bisa dilaksanakan.
Misalnya anak Anda terlalu larut pulang malam, list ide yang mungkin Anda dan remaja Anda tulis adalah tidak boleh keluar malam lagi sampai nikah, jam malam diperpanjang 2 jam, Papa jemput ke tempat acara dan sebagainya. Mana yang paling mungkin untuk berdua. Misalnya jam malam diperpanjang tetapi hanya 1 jam, dan untuk acara-acara tertentu, seperti ulang tahun teman. Kuncinya, saling mendengar, saling bicara dan buat keputusan secara bersama-sama. ***