Sumut Berpotensi Jadi Eksportir Rumput Laut

>>partono, medan
    Sumatara Utara berpotensi menjadi eksportir rumput laut (sea-weed) ke negara-negara Asia, karena melimpahnya hasil laut itu di daerah ini.
    "Sumut kaya rumput laut, tetapi pemerintah tak punya political will yang baik, sehingga kita kehilangan Pendapatan Asli Daerah (PAD)," kata anggota Komisi D DPRD Sumut, Iman B Nasution, Selasa (8/12).
    Menurut anggota dewan dari Partai Gerindra ini, potensi rumput laut bisa menghasilkan devisa miliaran rupiah dengan modal yang relatif kecil. "Karena tidak adanya dukungan dan kemauan, sektor ini dikerjakan orang per orang," ujarnya.
    Berbeda dengan upaya yang dilakukan Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan yang gigih mengejar PAD dari pengembangan rumput laut hingga menjadi eksportir terbesar kedua setelah Chili.
    "Waktu kita ke sana , kita memperoleh penjelasan bahwa Sulsel mengandalkan ekspor rumput laut untuk mendongkrak PAD," ujar Imam, yang bersama rombongan Komisi D DPRD Sumut melakukan kunjungan kerja ke Makasar, Sulawesi Selatan, pekan lalu.
   Untuk Sumut, lanjut Imam, pengelolaan rumput laut dikerjakan di Seletong, Kabupaten Langkat.      "Luasan lahannya berkisar 1 hektar, dengan permodalan tak sampai Rp400 juta, namun menghasilkan rumput laut 45 kg per 100 hari, dan dilepas ke pasaran lokal dengan harga Rp1000 kg," ujarnya.
Perawatannya pun tidaklah repot, dan dapat dipadukan dengan pemeliharaan ikan bandeng. Dari 100 kg rumput laut yang dirawat di tambak, dapat tumbuh 1 cm per hari, sehingga selama 45 hari, sudah dapat dipanen untuk dijual ke pasaran. Dari 8 ton rumput laut basah, dapat dihasilkan 4 ton rumput laut kering, yang bermanfaat untuk obat, odol, minyak rambut dan lain-lain.
   Imam mengherankan kenapa pemerintah tidak mau mengembangkan potensi ini, mengingat Sumut memiliki lautan yang luas, begitu juga pulau di 33 kabupaten/kota. Selian itu, Sumut masuk dalam wilayah subtropis, sehingga sangat memungkinkan sektor ini dikembangkan.
Imam mengingatkan kepada Dinas Kelautan Sumut untuk terus mempromosikan potensi ini kepada investor asing agar rumput laut di Sumut dapat diberdayakan untuk dijadikan mata ekspor.

Bulan lalu, ketika menggelar pertemuan dengan Badan Lingkungan Hidup Sumut, Ketua Komisi D Ajib Shah merespon keinginan Kepala BLH Prof Syamsul Arifin, yang meminta Sumut mengembangkan rumput laut. "Waktu saya ke Hong Kong, rumput laut kering jadi konsumsi sehari-hari warga di sana ," ujar Syamsul Arifin, seraya menambahkan, Sumut memiliki sumber rumput laut yang melimpah namun sayangnya tidak diberdayakan. ***