Gubsu Diminta Peduli Kerusakan Jalan Lintas Aek Nabara

>>zainul, negeri lama
   Kerusakan parah yang terjadi di jalan lintas Aek Nabara menuju Ajamu di Kabupaten Labuhanbatu, yang ditengarai akibat dilalui truk "rakrasa" yang setiap hari melintas mengangkut kayu log, mendapat kritikin dari warga.
   Mereka berharap Gubernur Sumatera Utara H Syamsul Arifin segera mengambil sikap dan memperhatikan kerusakan yang terjadi saat ini.
    Hal itu dikatakan salah seorang warga yang berbincang dengan imbc, Sabtu (19/12) di daerah Negeri Lama. "Kami merasa sangat terganggu dengan aktifitas truk raksasa yang membawa kayu (log-red). Coba bayangkan, hampir ratusan truk melintas setiap harinya, mau melewati truk saja kami takut, sudah truk besar-besar bawa muatan lagi," ujarnya kesal.
   Warga berharap Gubsu dapat turun langsung melihat kerusakan jalan dan mengetahui apa penyebab kerusakan itu. "Jangan lah ini dianggap sepele. Pengguna jalan yang selama ini merasa tentram, mulai merasa gerah dan tak tau harus berbuat apa. Harapan itu terpaksa di gantungkan ke pada bapak gubernur," ujar warga.
   Sebelumnya telah terjadi penghadangan truk bermuatan kayu gelondongan yang dituding warga merusak jalan karena bermuatan melebihi kapasitas, akhirnya ditahan warga untuk tidak melintas di Jalan Jurusan Aek Nabara-Tanjung Sarang Elang Kabupaten Labuhanbatu, Rabu (16/12).
   Bersama dengan anggota DPRD Labuhanbatu, Lahmuddin Hasibuan dari Partai Demokrat, David Siregar dari Partai Golkar dan Ponimin dari Partai Persatuan Pembangunan, warga menahan truk untuk tidak melintas, tepatnya disimpang jalan jurusan Aek Nabara-Tanjung Sarang Elang.
   Udin salah seorang warga yang turut melakukan penahanan mengatakan, truk bermutan kayu itu yang paling parah merusak jalan karena setiap hari lewat dengan berkonvoi melintas bermuatan kayu untuk dibawa menuju pelabuhan Tanjung Sarang Elang.
"Kami sangat keberatan truk bermuatan kayu itu yang terus lalu lalang melintas, sehingga mengakibatkan jalan cepat rusak, dan mereka (truk) sudah lama melintas dijalan ini," kata Udin.
   Menurut Udin, selain tidak menguntungkan kepada masyarakat, truk-truk tersebut sangat meresahkan warga yang bermukim disepanjang jalan karena jalan yang sempit dilintasi truk-truk besar. "Saya juga ngeri melihat truk yang melintas karena sangat rawan bahaya terhadap keselatan warga yang bermukim disepanjang jalan," keluhnya.
   Anggota DPRD Labuhanbatu Lahmudin Hasibuan ditempat yang sama bersama warga saat menahan truk untuk tidak melintas mengutarakan, sebagai anggota DPRD yang terpilih dari daerah pemilihan (Dapem) I dan IV meliputi daerah jalan yang dilalui truk, sebelumnya telah melakukan pertemuan dengan Kepala Dinas Perhubungan Wilayah III Sumatera Utara meminta untuk melakukan penertiban terhadap truk yang melintas dijalan tersebut karena diduga telah melampaui batas tonase (18 ton) yang dapat mengakibatkan kerusakan jalan.
   "Hal ini telah menjadi sorotan DPRD dan selalu disampaikan dalam acara sidang DPRD Labuhanbatu, bahkan sewaktu acara pembekalan anggota DPRD di Medan tanggal 13 Desember kemarin, dihadapan pejabat Pemprovsu yang saat itu hadir dari pihak Inspektorat, kami juga meminta agar segera dilakukan penertiban," kata Lahmudin.
   Namun, menurut Lahmudin hal tersebut belum ada perhatian yang diberikan sehingga mengakibatkan masyarakat langsung turun tangan untuk melakukan penertiban. "Dengan membuat posko pengaduan masyarakat disimpang jalan jurusan Aek Nabara-Tanjung Sarang Elang dan meminta dukungan tandatangan dari warga dan pengendara sepeda motor dan mobil," ujarnya.
   Gaol, salah seorang pengemudi truk bermuatan kayu gelondongan yang ditahan warga untuk tidak melintas ketika dikonfirmasi mengatakan, kayu tersebut diperoleh dari perusahaan RAPP di Ulu Gajah Kabupaten Padang Lawas diangkut menuju pelabuhan Tanjung Sarang Elang dan akan dilabuhkan ke Kerinci Provinsi Riau untuk dikelola menjadi kertas.
"Kami hanya kuli untuk mengangkut kayu, gaji yang kami peroleh cuma Rp7.000 perton, dan itu diperoleh selama lima hari kerja," ujar Gaol.
   Gaol menambahkan, lokasi pembalakan kayu tersebut sudah mencapai titik akhir karena persediaan kayu yang sudah menipis. Truk yang digunakan tersebut adalah milik perusahaan. "Truk yang mengangkut kayu berjumlah 600 unit, dengan rincian 100 unit diberangkatkan menuju pelabuhan Tanjung Sarang Elang, dan yang lainnya menempuh jalur darat menuju Kerinci," jelas Gaol. ***