Ibunda Gubsu Luncurkan Buku ’Cinta di Taj Mahal’

”Ipin, Jangan Sekali-kali Sakiti Hati Rakyat...”

>>imbc, medan
   "Ipin, engkau sekarang bukan hanya milik keluarga, nak, melainkan milik rakyat. Masyarakat tetap menantikan pengabdian dan darma baktimu. Dan yang terpenting, jangan sekali-kali engkau menyakiti hati rakyat, nak..."
   Demikian salah satu petikan testimoni Hj Fadlah, ibunda Gubsu H Syamsul Arifin SE, saat peluncuran buku biografi beliau berjudul 'Cinta di Taj Mahal' serangkaian perayaan HUT ke-73 beliau di Gubernuran Medan, Minggu (27/12) malam.
   Pesan khusus tersebut tak pelak membuat anak sulungnya, H Syamsul Arifin, tak kuasa menahan haru. Matanya berkaca-kaca dan sesekali menyeka air mata. Beliau tampak mengangguk-angguk tatkala testimoni ibundanya ini ditayangkan di tengah ruangan utama Gubernuran, sementara sang Ibu juga tampak berlinang air mata bahagia setelah menitipkan pesan khusus untuk anaknya yang kini menjabat Gubsu namun tetap dipanggilnya, "Ipin..."
   Suasana peluncuran buku biografi Hj Fadlah ini benar-benar syahdu dan penuh kekeluargaan. Sejumlah pejabat eselon Pemprovsu selaku pribadi datang mengucapkan selamat ulang tahun kepada Hj Fadlah, begitu juga kepada Gubsu H Syamsul Arifin yang menurut perhitungan tahun Islam hari itu (10 Muharram) beliau berulang tahun.
  Kaum kerabat beserta famili berbaur di tengah-tengah hadirin dan keluarga besar H Hasan Perak (ayahanda H Syamsul Arifin SE) mulai dari anak dan menantu Hj Fadlah hingga cucu dan cicit. Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an oleh Hamdi Hidyat dan Sari Tilawah oleh Lulu Afliah Niarti yang keduanya cucu Hj Fadlah. Sementara cucu tertua, Ir Hj Bebi Arbiana Syamsul Arifin menghadiahkan lagu kesayangannya kepada nenekanda tercinta.
   Sekdaprovsu DR RE Nainggolan pada acara yang juga dihadiri Drs H Hasrul Azwar, anggota DPR-RI dari Fraksi PPP juga tampak terharu mengikuti acara yang sangat syahdu ini dan beliau melantunkan lagu Batak yang mengisahkan kecintaan terhadap seorang ibu.
Drs H Eddy Syofian MAP atas nama Editor buku yang ditulis Hj Ayu Kusumaningtyas mengemukakan rasa bangga atas komitmen dan kemauan kuat ibunda Gubsu menerbitkan buku biografinya ini.
"Masyarakat tentu mengetahui dan sangat mengenal sosok Bapak Syamsul Arifin selaku pemimpin Sumut. Namun ada lagi tokoh yang lebih hebat di belakang beliau, yang tetap menjadi sumber inspirasi beliau, yakni ibundanya. Tentu masyarakat perlu mengetahui latar belakang dan kiprah seorang ibu dari tokoh yang amat dikagumi," ujar Eddy yang juga Kadis Kominfo Provinsi Sumut.
Penulisan buku ini, jelas Eddy dilatarbelakangi pertimbangan antara lain pada 16 April 2008 yakni satu jam setelah penutupan pemungutan suara Pilgubsu pemenang perhitungan cepat (Quick Qount) menunjukkan pasangan H Syamsul Arifin dan H Gatot Pujonugroho unggul.
   "Saat diwawancarai di televisi Pak Syamsul disertai tangis menyampaikan syukur sembari menyatakan hal ini berkat doa emak sehingga anak penjual kue dipercaya rakyat menjadi pemimpin Sumut.     Kemudian, saat pelantikan 15 Juni 2008 di berbagai media Pak Syamsul menyatakan latar belakang dirinya maju karena dorongan ibundanya Hj Fadlah. Pak Gub mengatakan saat itu, "Emak bilang maju, majulah saya'," tutur Eddy seraya mengemukakan semua ini ingin diketahui lebih jelas oleh masyarakat sehingga tebitnya buku ini sedikit banyaknya memberi jawaban hal itu.
Milik Rakyat
  Lebih lanjut Hj Fadlah mengemukakan dia menyadari sepenuh hati bahwa anaknya Syamsul Arifin yang saat ini menduduki pucuk pimpinan sebagai Gubernur Sumatera Utara bukan milik keluarganya sepenuhnya. "Saya pun tak banyak menuntut seandainya dia jarang menghubungi saya atau pun berkunjung ke rumah Melayu yang dibangunnya ini. Kalau dia sering tidak datang, saya pun sudah maklum. Karena Ipin sekarang milik rakyat," tuturnya sembari tertawa lepas.
   "Saya pun tak ingin membebani dia dengan pikiran yang berat-berat. Pesan saya untuk Ipin, sayangi saudara. Emak ini hanya sebatangkara, saudara tak punya. Saya pun selalu berdo'a si Ipin sehat, bisa melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik," tambahnya.
Hj Fadlah juga memaparkan dalam bukunya ada banyak sifat ayahnya Hasan Perak yang menurun kepada Syamsul Arifin antara lain pemurah dan sangat hormat kepada orang tua maupun kepada orang yang dituakan.
   "Bakat Ipin yang menonjol dari kecil adalah berpidato dan memiliki kepedulian sosial yang sangat tinggi. Kalau ada orang yang meninggal apakah itu tetangga, tetangga kampung sebelah apalagi keluarga, si Ipin lah yang sering bawa bendera. Dia nomor satu baris di depan membawa bendera dan berjalan paling depan, sedang di belakang orang-orang yang mengusung jenazah. Terkadang tak pakai sandal dengan bajunya yang tidak berkancing. Dia sering bilang kalau kata Mak "Iya," dia akan maju, tapi kalau bilang "enggak," dia juga tak berani. Begitulah si Ipin," tutur emaknya. ***