Pengelolaan Pasar Sangkumpal Bonang P.Sidimpuan Ditolak Para Pedagang

>> kodir, padangsidimpuan
              Pasca berakhirnya MoU (Memorandum of Understanding) PT ATC dengan Pemko P..Sidimpuan, 13 Januari 2010, para pedagang sudah mengungkapkan penolakan pengelolaan pasar raya Sangkumpal Bonang oleh Pemerintah Kota (Pemko) P.Sidimpuan.
Mereka (pedagang-red) tetap 'ngotot' bahwa pasar tradisional kebanggaan masyarakat kota salak P.Sidimpuan itu tetap dikelola pihak pengembang PT ATC (Anugrah Tetap Cemerlang).
"Kami tidak sepakat pabila Sakumpal Bonang dikelola Pemko. Apapun ceritanya kami tetap dalam prinsip PT.ATC sebagai pihak pengelola pasar," ungkap Bader Harahap, ketua badan pengelola pasar raya Sangkumpal Bonang, bersama sepuluh orang dari ribuan perwakilan pedagang Sangkumpal Bonang, Senin (18/01).
Ungkapan itu menjawab rasa kekuatiran pedagang atas keberadaan Sangkumpal Bonang jangan sampai pindah dari tangan pihak pengembang PT ATC ke yang lain dalam hal ini Pemko.
Soalnya, menurut pengalaman para pedagang Sangkumpal Bonang sebelum terbakar beberapa tahun silam yakni Pasar Baru dikelola oleh pemerintah setempat. Saat itu kata Bader kondisi pasar memprihatinkan, sepertinya tidak terawat, lantainya jorok, kumuh, rawan copet dan pencurian.
"Kesan itulah yang menghantui kami para pedagang saat ini apabila Sangkumpal Bonang yang dibangun tahun 2001 lalu kembali dikelola oleh pemerintah," kata Midun, pedagang pakaian jadi.
Sudah seharusnya Pemko bijaksana dan mengkaji secara mendalam sikapnya sebelum mengambil keputusan mengelola pasar Sangkumpal Bonang. "Sejak 13 Januari 2005 hingga sekarang, kami sudah merasakan kenyamanan pasar dibawah pihak PT ATC, baik dari sisi keamanan, kebersihan, dan manajemen," ujar Midun.
Selanjutnya Midun berharap, kiranya Pemko tetap memperpanjang MoU dengan PT ATC. Hal itu katanya demi menjaga kondusifitas dan kenyamanan berusaha di Pasar Raya Sangkumpa Bonang.
"Kami masih trauma ketika pengelolaan Pasar Baru dilakukan pemerintah yang kiosnya pernah kemalingan dan tidak ada yang bertanggungjawab, lagi kesannya maksiat," sambung Delima Sari Rangkuti, pemilik kios dagang pakaian jadi Prambos.
Hal serupa ditambahkan pedagang lainnya Tison, pedagang jam, dia trauma mengingat penegelolaan Pasdar Baru dulunya, tidak aman, tidak nyaman, tidak perhatian pemerintah, sehingga kesannya merugikan pedagang.
"Kami nyatakan sikap bahwa kami bersama ribuan rekan-rekan pedagang lainnya tidak bersedia Sangkumpal Bonang dikelola pemerintah, karena dia khawatir kasus lama terulang kembali." Demikian tekad mereka yang diamini pedagang lainnya Hasbullah.
"Ini harga mati dan demi perut kami tidak mau usaha kami terganggu karena diambil alih pemko pengelolaanya," tegas mereka lagi yang mengaku dalam waktu dekat akan beraudensi dengan Walikota P.Sidimpuan, Drs H Zulkarnaen Nasution, MM mempertanyakan sejauh mana MoU tersebut. ***