>> imbc, medan
Komisi D DPRD Sumut melakukan Sidak (inspeksi mendadak) ke PT PLN Kitsu (Pembangkitan Sumut) di Sicanang Belawan, Senin (8/2) sore, menuntut manajemen PT PLN agar menghentikan aksi pemadaman listrik di wilayah Sumut yang akhir-akhir ini semakin memprihatinkan.
Sidak yang dipimpin Ketua Komisi D DPRD Sumut H Ajibshah didampingi anggota Komisi D H Mustofawiyah Sitompul, Drs Tunggul Siagiaan, Iman B Nasution, Drs Jamaluddin Hasibuan, Restu Kurnia Sarumaha, SE, Ir Tonies Sianturi, Biller Pasaribu, Abul Hasan Maturidi, Andi Arba dan Yusuf Siregar, diterima Manager Utama dan Perencanaan Robert Melizar dan Deputi ManagerKomunikasi dan Hukum Marojahan Batubara.
"Kita minta manejemen PLN agar jangan lagi melakukan pemadaman secara bergilir, karena sangat merugikan masyarakat. Jika tetap dilakukan pemadaman, sebaiknya manajemen PT PLN dirombak total, mulai dari tingkat pusat hingga daerah, agar seluruh permasalahan kelistrikan dapat dibenahi bertahap," kata Ajib Shah.
Sidak ini dilakukan untuk merespon keresahan yang dialami warga terkait pemadaman listrik yang hingga kini belum mampu diatasi, meski Sumut sudah menambah daya dari pembangunan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) Labuhan Angin Tapteng (Tapanuli Tengah).
Menurut Ajib, PLN Kitsu yang kerap disorot karena menjadi pusat pendistribusian arus listrik di Sumut dan Aceh, ternyata tidak dapat berbuat apa- apa, karena selain kondisi pembangkitan yang sudah sakit-sakitan, juga sebagian suku cadangnya harus ditender di pusat.
"Untuk spare-part, PLN Kitsu harus menunggu dari pusat, padahal suku cadang mesin buatan Jerman itu amat dibutuhkan," kata Tunggul Siagian seraya mensinyalir kerapnya rusak mesin pembangkit listrik Sicanang diduga karena sparepart yang dipasang tidak sesuai dengan aslinya dari Jerman, tapi buatan China.
Sementara Deputi Manajer Komunikasi dan Hukum Marojohan Batubara yang mendampingi Komisi D menjelaskan, pemadaman aliran listrik tidak dapat terelakkan karena adanya suplai dan demand.
"Saat ini, jam operasi PLN Kitsu meningkat dari 100.000 menjadi 130.000 jam, sehingga ada kelebihan 30.000 jam. Ini menyebabkan kondisi material mesin mengalami gangguan, seperti penuaian dan vibrasi," kata Marojohan didampingi Staf Humas PLN Kitsu M Abrar Ali.
Imbangi Suplai Siapkam Sparepart
Namun, tambah Marojahan, saat ini, PLN Kitsu sudah diback-up oleh dua block I dan II dengan kekuatan masing-masing 460 MW dan 420 Mw ditambah daya dari PLTU Labuhan Angin sebesar 4x65 MW. Diharapkan, dengan back up ini plus empat pemikul beban daya bisa mengimbangi suplai dan demand saat ini yang cenderung meningkat.
Namun pihaknya tidak dapat berbuat apa-apa jika beban puncak kembali terjadi dengan kapasitas terpasang yang ada. "Kita kembali lagi seperti semula, akan ada pemadaman. Pemadaman dilakukan bukan disengaja, tetapi memberi ruang bagi mesin untuk "istirahat" dan dioverhaul," katanya.
Jika suplai dan demand tidak seimbang, maka seperti penyakit lama, beberapa spare-part kembali mengalami gangguan. "Kita tidak bisa paksa mesin bergerakm melampaui jam operasi karena itu bisa mengganggu keseluruhan sistem," pungkasnya. ***