Benteng Ujung Pandang Masih Berdiri Kokoh

>>mad, makassar Benteng Ujung Pandang lebih terkenal dengan sebutan benteng Fort Rotterdam terletak di Kelurahan Baru, Kecamatan Ujung Pandang, Kodya Makassar, Sulsel masih terlihat berdiri kokoh. Bahkan Pemprov Sul-Sel menjadikan benteng tersebut salah satu bangunan bersejaran. Bagi pelancong hendak datang ke kota Makassar, tidak akan puas sebelum melihat benteng Ujung Pandang, Karena dari atas benteng dengan tinggi mencapai 7 meter. Bahkan dari atas benteng Ujung Pandang, anda bisa melihat pemandangan lepas ke pantai Loesari dan melihat indahnya pulau Laelae. Bahkan Kodya Makassar dan Pemprov Sul-Sel menjadikan benteng ujung Pandang sebagai salahsatu objek wisata, selain itu Pemko Makassa membangun museum didua bangunan. Pada museum tersebut kita dapat melihat peninggalan sejarah Raja Goa dan Raja Hasanuddin. Bahkan dimuseum itu bisa dilihat Mahkota Raja Hasanuddin terbuat dari emas murni dengan berat 9 Kg. Asal mula nama Asal mula benteng Ujung Pandang adalah karena letaknya berada disebuah Tanjung, dalam bahasa makassarnya Ujung. Sedangkan nama Pandang karena disekitar benteng tersebut banyak ditumbuhi hutan Pandang. Itulah nama asal benteng Ujung Pandang. Sedangkan nama Fort Rotterdan nama dibuat oleh Belanda pada saat menduduki Makassar. Menurut sejarah, Benteng Ujung Pandang dibangun oleh Raja Gowa IX bernama daeng Matanre karang manguntungi Tumaparisi Kallonna dan pembangunannya diselesaikan putranya Raja Gowa X manriwa Gau daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng pada tahun 1545 Masehi. Arsitektur benteng gaya Portugis, sedangkan didalam benteng terdapat bangunan-bangunan khas tradisional Makassar dengan tiang tinggi. Namun sejak dikuasai Belanda, seluruh bangunan tradisional diganting dengan bangunan gaya Gotik (Eropah) abad 17. Pada masa kerajaan Gowa (1545-1667), benteng Ujung Pandang berfungsi sebagai salahsatu benteng pengawal untuik melindungi benteng induk Somba Opu merupakan tempat pemukiman pembesar-pembesar kerajaan. Masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, benteng Ujung Pandang pernah dijadikan sebagai pusat persiapan perang dan upacaya membasuh panji-panji dengan darah dalam menghadapi VOC/Belanda. Sedangkan masa penjajahan Belanda (1667-1942), benteng dirubah namanya dengan Fort Rotterdam dan dijadikan sebagai markas komando pertahanan, pusat perdagangan dan pemukiman pejabat Belanda. Bahkan Pangeran Diponegoro pernah ditawan di dalam benteng Ujung Pandang tersebut. Pada tahun 1974, benteng ujung Pandang dijadikan pusat Budaya Sul-Sel, dalam benteng terdapat kantor Balai Pelestarian peninggalan Purbakala Sulewisi selatan, tenggara dan Tengah. Promprov Sul-Sel menjadikan dua bangunan sebagai museum dengan nama La Galigo. ***