Kerajaan Belanda adalah pasar yang paling potensial bagi pengembangan bisnis pariwisata Sumatera Utara. Hal ini bisa terjadi karena sebgian orang Belanda memiliki ikatan yang kuat terhadap Indonesia secara umum, dan Sumut secara khusus.
Hal itu dikatakan Wakil Duta Besar pada Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI), Umar Hadi, kepada sejumlah wartawan di Gubernuran Jalan Sudirman Medan, Jumat (7/5). Katanya, potensi itulah yang ia sampaikan kepada Gubernur Sumatera Utara Syamsul Arifin dalam sebuah pertemuan.
Menurutnya, potensi pasar pariwisata itu tidak muncul begitu saja. Mereka telah menguji dan melihatnya melalui kegiatan Pasar Malam Indonesia yang digelar KBRI Den Haag di Amsterdam Belanda.
"Wah, selama lima hari kegiatan, yakni tanggal 1-5 April lalu, ada 30.000 warga Belanda yang mengunjungi pasar malam itu. Mereka menikmati semua jajanan dan sajian budaya yang diuguhkan berbagai daerah di Indonesia, termasuk Sumatera Utara," ucap Umar Hadi.
Ia yakin, orang-orang Belanda sangat senang datang ke Sumatera Utara, mengingat masih banyak gedung perkantoran dan rumah yang merupakan peninggalan kolonial. "Terus, kan ada pabrik tembakau Delui. Itukan peninggalan era penjajahan Belanda yang bisa menjadi daya tarik tersendiri," tambahnya.
Ia juga mengaku telah melakukan perjalanan ke Kabupaten Tanah Karo, di mana banyak perkebunan sayur dan buah-buahan juga diminati turis asal Belanda. "Saya pernah membawa 25 orang Belanda langsung dari Amsterdam ke Medan menggunakan salahsatu maskapai asing, tanpa harus singgah atau transit di Singapura," ujarnya.
Disinggung mengenai masa lalu Indonesia-Belanda yang berpotensi menjadi beban psikologis bagi kedua belah pihak, Umar Hadi menyatakan kedua negara telah sepakat untuk lebih melihat ke masa depan keimbang terjebak di masa lampau.
Apalagi, ujar Umar Hadi, pada tahun 2005 lalu, Duta besar Belanda untuk Indonesia pun sudah menyatakan pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. "Kita lebih baik melihat masa lampaulah. Kalau ada hal jelek hasil peninggalan Belanda, kan ada juga yang baik. Rel. keretaapi misalnya," tegas Umar Hadi sembari tersenyum. ***