Buku Kepustakaan di Kantor Arsip, Perpustakaan, dan Dokumentasi Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu yang dialokasikan dengan anggaran sebesar Rp499.500.000 dari APBD TA 2009 dinilai mubazir. Pasalnya, buku pengadaan tersebut hingga saat ini dianggap tidak dimanfaatkan.
Mengutip temuan BPK, kegiatan pengadaan buku/kepustakaan dilaksanakan satu paket dengan cara pelelangan umum oleh CV Runi sesuai kontrak nomor 09/P2K/Proyek/KAPD/2009 pada tanggal 16 November. Jangka waktu pelaksanaan pekerjaan selama delapan hari.
Dari hasil pengujian keberadaan atas fisik buku/kepustakaan di lapangan diketahui bahwa buku tersebut masih disimpan pada kantor dimaksud dengan kondisi tempat penyimpanan tidak memadai dan belum didistribusikan ke gedung perpustakaan. selain itu, jenis buku-buku yang diadakan sesuai dengan buku yang ditawarkan oleh CV Runi dan bukan berdasarkan spesifik teknis yang dibutuhkan dalam harga perkiraan sendiri (HPS).
Dengan begitu, proyek pengadaan tersebut dianggap melanggar dan tidak sesuai dengan keputusan Presiden RI nomor 80 tahun 2003 dan perubahannya tentang pedoman pelaksanaan pengadaan barang dan jasa.
Kepala Kantor Arsip, Perpustakaan, dan Dokumentasi Pemkab Labuhanbatu Burhanudin ketika dikonfirmasi wartawan mengenai soal itu, Kamis (2/9) mengatakan, bahwa pengadaan buku/kepustakaan itu adalah urusan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). " Tanyakan saja sama PPK nya. Dia yang mengetahui soal itu. Lagian saya tidak dikantor itu lagi, sayakan sudah pensiun," ucap Burhanudin.
Sedangkan, PPK Ribut menjelaskan, ketidak tahuannya mengenai soal itu. Sebab, ia hanya diperintahkan untuk menandatangani segala proses administrasi. " saya memang PPK nya, tapi itu karena diperintahkan oleh Mantan Kakan itu (Burhanudin)," aku Ribut.
Dijelaskannya, sewaktu ada pemeriksaan dari Pihak BPK, yang memberikan keterangan adalah Burhanudin bersama ketua panitia lelang. Sebab tambahnya dia tidak mengetahui soal pengadaan buku tersebut.
"Tanyakan saja sama Pak Burhanudin karena dia yang tahu mengenai itu. Saya hanya sebagai formalitas dibuat disitu. Lagian saya pun gak pandai menjawabnya," keluh Ribut. ***